
Hukum mani (sperma)
عَنْ عَلْقَمَةَ وَاْلأَسْوَدِ؛ أَنَّ
رَجُلاً نَزَلَ بِعَائِشَةَ. فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ. فَقَالَتْ
عَائِشَةُ:
إِنَّمَا كَانَ يَجْزَئُكَ، إِنْ رَأَيْتَهُ،
أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ. فَإِنْ لَمْ تَرَ، نَضَحْتَ حَوْلَهُ. وَلَقَدْ
رَأَيْتَنِي أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
فَرْكًا. فَيُصَلِّي فِيْهِ
Hadits riwayat Aisyah
Radhiyallahu’anha:
Dari
Alqamah bahwa seseorang datang kepada Aisyah, kemudian Aisyah berkata:
Seandainya engkau melihat mani, maka engkau cukup mencuci tempatnya
saja, kalau engkau tidak melihatnya, engkau siram air di sekitarnya. Aku
pernah mengerik mani pada pakaian Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam dengan sekali kerik, kemudian beliau memakainya untuk salat
عَنْ عَمْرُو بْنِ مَيْمُوْنَ. قَالَ:
سَأَلْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ عَنِ الْمَنِي
يُصِيْبُ ثَوْبَ الرَّجُلِ. أَيَغْسِلُهُ أَمْ يَغْسِلُ الثَّوْبَ؟
فَقَالَ: أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه
وسلم كَانَ يَغْسِلُ الْمَنِيَّ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ فِي
ذَلِكَ الثَّوْبِ. وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ الْغَسْلِ فِيْهِ
Hadits riwayat Amru bin Maimun
Radhiyallahu’anha , ia berkata:
Saya
menanyakan kepada Sulaiman bin Yasar tentang mani yang mengenai kain
seseorang. Apakah dicuci yang kena mani saja atau dicuci seluruh
kainnya? Sulaiman menjawab: “’Aisyah menceritakan kepada saya, bahwa
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mencuci sekedar yang kena mani,
kemudian beliau pergi untuk mengerjakan shalat dengan kain itu dan saya
masih melihat bekas cucian (basah) pada kain tersebut.
Posting Komentar